
Secara administratif terletak di Kampung Pamijahan, Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong. Situs terletak di daerah pedesaan yang arealnya dimanfaatkan sebagai tempat perumahan penduduk, pasar, sawah, ladang, dan hutan. Areal tersebut menempati lahan berbukit dan bergelombang. Situs termasuk cukup ramai didatangi pengunjung. Untuk mencapai ke lokasi dijangkau dari jalan raya bisa hanya bisa dicapai dengan jalan kaki menuju makam sekitar 500m, sedangkan menuju goa sekitar 2 km.
Pamijahan merupakan goa alam dan makam penyebar agama Islam. Makam Waliyullah Safardi, keluarga dan pengiringnya. Terletak dalam bangunan empat persegi panjang. Di luar bangunan di sekitarnya terdapat makam-makam keluarga. Makam-makam dalam bangunan lapisan pertama berjumlah 24, kemudian dalam ruangan lapisan kedua berjumlah 11, dan lapisan ketiga merupakan makam utama yang tertup dinding lagi. Goa pamijahan terletak cukup jauh dari makam, memiliki mulut goa yang cukup lebar dan tinggi.
Di dalam gua orang bisa berdiri tegak dengan stalaktit dan stalagmit yang kokoh. Goa cukup dalam dengan ruangan-ruangan yang seolah-olah disekat sebagai tempat pertapaan, pesantren, musholla, mimbar, lubang-lubang seperti mulut gua di dalam gua (menurut cerita, lubang tersebut adalah jalan tembus menuju Banten, Cirebon, bahkan Mekah), memiliki mata air yang jernih (dikenal sebagai air zam zam). Jalur jalan dalam gua dialiri air dan berbatu-batu.
Dalam sejarah lisan, gua Pamijahan adalah goa yang pernah menjadi tempat hunian Syeikh Abdul Qodir Jaelani ± 200 tahun sebelum Syeikh H. Abdul Muhyi menerima ilmu agama dari gurunya, Syeikh Imam Sanusi. Letak goa di kaki bukit Gunung Mujarod. Kata mujarod berarti penenangan karena di dalam goa itulah Syeikh Abdul Muhyi sering mendekatkan diri kepada Allah atau bersemedi. Kemudian kata pamijahan berasal dari masa sebelum hidupnya, yaitu Saparwadi. Saparwadi berasal dari bahasa Arab, sapar artinya jalan dan wadi berarti lembah atau jurang atau menjadi jalan yang berada di atas jurang.
Goa Kafir Vs Goa Safarwadi, Symbol Perseteruan Abadi
Di Pamijahan, selama ini dikenal 2 buah goa yang kerap dikunjungi. Yakni, Goa Safarwadi dan Goa Kafir. Nama keduanya pun diberikan langsung oleh Kanjeng Syech Abdul Muhyi, sebagai symbol perseteruan abadi antara manusia Beriman dengan Iblis.
Menurut KH Endang Ajidin, Kasepuhan Pamijahan, Goa Kafir sebetulnya sudah sejak lama dikenal masyarakat. Namun, hanya sedikit orang yang pernah melihat langsung lokasi tersebut. Kemunginan besar, hal itu akibat larangan langsung yang disampaikan Kanjeng Syech Abdul Muhyi kepada seluruh pengikut dan keturunannya agar jangan pernah mendekati lokasi tersebut.
“Sebenarnya, Goa Safarwadi dan Goa Kafir itu simbol. Bahwa dalam kehidupan ini hanya ada 2 jalan. Yakni jalan yang Haq dan jalan yang Batil, antara yang lurus dengan yang sesat. Nah kita mau pilih yang mana?”katanya saat ditemui di kediamannya, kemarin.
Dia menjelaskan, penamaan Goa Kafir juga menunjukkan sesuatu yang menjijikkan untuk didekati. Artinya perilaku-perilaku kekafiran jangan sampai dilakukan oleh seorang mukmin yang benar. Herannya kata dia, masih banyak saja orang yang malah berusaha mendekatinya hanya untuk mencapai kekayaan duniawi dengan cara menjual keimanannya.
Saat ini katanya, kuncen yang menguasai goa Kafir justru orang-orang dari luar daerah. Tak jarang, pesugihan juga menjadi semacam praktek penipuan dengan iming-iming penggandaan uang dan sejenisnya. Disisi lain, ada juga segelintir orang setempat yang telah terjerumus dalam praktek tersebut.
“Kami mendukung kalau seandainya ada rencana penataan goa tersebut. Ketimbang jadi tempat pemujaan, lebih baik agar ditata, dan diterangi listrik. Kalau sudah diterangi, biasanya jin-nya juga nanti minggat dengan sendirinya,”katanya.
Di tempat terpisah, Ep (25), salah seorang perempuan warga setempat yang tak jauh dari goa kafir mengaku sering melihat orang yang datang ke lokasi tersebut untuk melakukan pesugihan. Dia mengaku, kakaknya sendiri sebagai salah seorang kuncennya.
“Barusan saja ada orang Karangnuggal yang baru pulang dari dalam. Biasanya banyak juga orang luar seperti dari Tangerang dan Sumatera, dan luar Jawa,”katanya.
Dia juga menjelaskan, para pengunjungnya datang hampir setiap hari, nyaris tidak mengenal musim. Sehingga katanya, pada bulan apapun selalu ada saja orang yang datang, kendati tidak pernah membludak. Bagi sebagian orang kedatangan mereka memberi keuntungan misalnya bagi para penyedia jasa pengantar, dan penjual kebutuhan pasugihan.
Hingga kini, setelah 282 tahun meninggalnya Syech Abdul Muhyi (1730 M - 2012 M), para peziarah tak berhenti mendatangi Goa Safarwadi (Goa Pamijahan). Tidak hanya dari Jawa Barat, peziarah berdatangan dari daerah Jawa Timur, Kalimantan bahkan mancanegara yaitu Singapura dan Malaysia. Denyut nadi spiritual tidak kenal beristirahat, 24 jam penduduk Pamijahan menerima peziarah dengan senyum dan ketulusan hati membantu. Toko di sekitar jalan menuju Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) dari makam Syech Abdul Muhyi menjajakan souvenir, makanan khas, jirigen air, minuman buka 24 jam. Bagi Pak Totoy, pemandu kami, karamah Syech Abdul Muhyi tak lekang oleh waktu. Dengan tak pernah berhentinya pengunjung, ia dapat menghidupi dan menyekolahkan 2 anaknya, membiayai istri dan ibu mertuanya yang sakit stroke. Quote yang berharga dari Pak Totoy adalah " Yang Mati telah Menghidupi Yang Hidup" yang berarti walau Syech Abdul Muhyi telah berpulang ke Rahmatullah, tetapi keberkahan Beliau di Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) menghidupi penduduk sekitar hingga kini.
Sumber: